Air Mata Ibu di Ruli Batam, Anak Nyaris Tak Bisa Ujian hingga Kader Demokrat Junaidi Eddy Datang Membantu

Kisah dari kawasan ruli di Batu Ampar ini menunjukkan bagaimana kepedulian terhadap pendidikan dapat mengubah kecemasan keluarga prasejahtera menjadi harapan baru bagi masa depan anak-anak mereka.

Avatar photo

Batam- Daultkepri]  Di tengah padatnya kawasan permukiman sederhana di ruli Tanah Longsor, Kelurahan Kampung Seraya, Kecamatan Batu Ampar, dua anak sempat menghadapi kenyataan pahit: mereka tidak diperbolehkan mengikuti ujian sekolah karena belum mampu membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Cici dan Carli, dua siswa dari keluarga prasejahtera itu, hanya bisa menunggu dengan cemas di rumah mereka yang sederhana. Orang tua mereka berupaya mencari jalan keluar, namun keterbatasan ekonomi membuat harapan tersebut terasa semakin jauh.

Kabar mengenai kondisi keluarga itu akhirnya sampai kepada kader Partai Demokrat Kepulauan Riau, Junaidi Eddy.

Tanpa menunggu lama, Junaidi Eddy mendatangi langsung kediaman keluarga tersebut di RT 05 RW 06 ruli Tanah Longsor. Kehadirannya bukan hanya untuk melihat kondisi mereka, tetapi juga untuk memastikan kedua anak tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Dalam kunjungan tersebut, Junaidi Eddy yang juga menjabat sebagai Ketua DPD GRIB Jaya Kepulauan Riau menyerahkan bantuan sembako untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarga itu.

Namun bantuan yang paling berarti bagi Cici dan Carli adalah kepastian bahwa mereka tetap bisa bersekolah.

Junaidi Eddy menyatakan kesiapannya untuk menanggung biaya SPP kedua siswa tersebut selama satu tahun penuh. Langkah itu diambil agar mereka tidak lagi terbebani persoalan biaya dan dapat fokus belajar.

Rencananya, pembayaran SPP akan dilakukan langsung kepada pihak Sekolah Suluh Bangsa pada Senin mendatang dengan didampingi oleh orang tua kedua siswa tersebut.

Menurut Junaidi Eddy, pendidikan merupakan hak setiap anak yang tidak boleh terhalang oleh kondisi ekonomi keluarga.

“Anak-anak harus tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih cita-cita mereka. Sebagai kader Partai Demokrat, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat, terutama dalam hal pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat menjadi motivasi bagi kedua siswa itu untuk terus bersemangat menempuh pendidikan.

Bagi keluarga Cici dan Carli, bantuan itu datang di saat yang sangat tepat. Ibu mereka, Angelina Peni Gawen, mengaku sempat merasa bingung dan sedih ketika anak-anaknya tidak diizinkan mengikuti ujian karena tunggakan SPP.

Menurut Angelina, kondisi ekonomi keluarga membuat mereka kesulitan memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk biaya sekolah anak-anaknya.

“Kami sangat bersyukur atas perhatian dan bantuan dari Bapak Junaidi Eddy. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama untuk pendidikan anak-anak,” kata Angelina.

Kini, kecemasan yang sempat menyelimuti keluarga itu mulai berganti dengan harapan. Cici dan Carli dapat kembali mempersiapkan diri mengikuti ujian dan melanjutkan sekolah, membawa mimpi mereka untuk masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *