Daulatkepri.Com] Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu. Dari akar itulah bangsa ini berdiri. Namun, hari ini kita menyaksikan ironi: simbol-simbol Melayu dipuji di panggung politik nasional, tetapi dihapus dan dipinggirkan di tanah asalnya.
Purajaya: Dari Ikon Jadi Puing
Hotel Purajaya di Batam, milik keluarga Megat Rurry Afriansyah, sejak 1988 menjadi ikon pariwisata dan simbol marwah Melayu. Namun, pada 2023 bangunan itu diratakan. Tanpa putusan pengadilan. Aparat hadir, tetapi hanya menonton. Kerugian ditaksir mencapai Rp922 miliar.
Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri menyebut ini ulah mafia tanah. Dan mari bicara apa adanya: mafia tak mungkin sekuat itu tanpa “ordal” — orang dalam. Polisi, DPRD, partai politik, hingga hakim, disebut-sebut masuk ke payroll mereka. Bahkan ada cerita seorang YouTuber ditawari suap untuk bungkam. Lebih jauh, ada “mafia di balik mafia”: pebisnis ilegal luar negeri yang memanfaatkan status Free Trade Zone (FTZ) Batam.
LAM sudah melayangkan surat resmi kepada Presiden. Hingga kini, tak pernah dijawab.
Melayu yang Absen di Museum
Kontradiksi semakin nyata ketika kita menengok museum nasional dan museum budaya di Indonesia. Ada ruang untuk Jawa, Sunda, Batak, Minahasa, Dayak, Toraja, Papua. Tapi di mana Melayu?
Padahal, bahasa persatuan yang kita pakai sehari-hari berakar dari bahasa Melayu. Ironisnya, justru karena dianggap “default”, Melayu dipakai tetapi tidak pernah benar-benar diakui sebagai identitas kultural yang setara.
Politik Simbol vs Realitas
Presiden Prabowo mengenakan tanjak Melayu di Istana Negara pada 17 Agustus 2025, disaksikan dunia. Di panggung politik, Melayu dipuji. Di museum, Melayu dihapus. Di Batam, simbol Melayu dihancurkan.
Cash lebih kuat dari hukum. Simbol budaya dijadikan kostum politik. Negara memilih diam.
Dari Amerika, Tentang Citra Indonesia
Sebagai konsultan teknologi yang hidup di Amerika, saya bisa melihat betapa rapuhnya citra Indonesia bila kasus ini disorot dunia internasional. Kontradiksi akan terbaca jelas:
Unity in Diversity vs realitas diskriminasi budaya. Dunia akan melihat kemunafikan.
Rule of Law vs Rule of Cash. Investor asing, diplomat, hingga NGO internasional akan membaca: di Indonesia, hukum bisa dibeli.
Indigenous Rights. Melayu bisa masuk radar isu global setara dengan Aborigin, Native American, atau suku Amazon: diabaikan di tanah sendiri.
Mafia Global. Batam bisa dicap sebagai surga mafia internasional, memanfaatkan FTZ untuk pencucian uang. Indonesia berisiko masuk radar lembaga internasional seperti FATF.
Politik Simbol. Media dunia akan mudah menulis headline: Presiden pakai tanjak di Istana, simbol Melayu di Batam dihancurkan.
Pertanyaan yang Menggantung
Bangsa ini sedang mempertaruhkan kredibilitasnya. Kalau akar bangsa saja tidak dihormati, apa yang tersisa dari cabangnya? Kalau simbol budaya hanya jadi hiasan politik, apa artinya kebanggaan itu?
“Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang.”
— Megat Rurry Afriansyah
Monica Nathan, konsultan teknologi informasi. Tinggal di Amerika, namun hatinya tetap pada akar: Melayu dan Indonesia.