Jumat, Agustus 29, 2025
spot_img
BerandaKepriBatamNasib Warisan Melayu,Monica Nathan : Jakarta Tak Ingin Melayu, Kepri Menghapusnya.

Nasib Warisan Melayu,Monica Nathan : Jakarta Tak Ingin Melayu, Kepri Menghapusnya.

Daulatkepri.Com] Jakarta –Pernahkah Anda masuk ke Museum Nasional di Jakarta? Gedung Gajah itu. Koleksinya lengkap: arca, naskah, keramik, etnografi dari Sabang sampai Merauke. Tapi saya mencari satu hal yang tak kunjung saya temukan: narasi bahwa Melayu adalah akar Indonesia.

Bahasa Indonesia yang kita pakai setiap hari berasal dari Melayu. Ia dulu lingua franca Nusantara. Tapi di museum nasional, ia tidak mendapat ruang khusus. Di TMII ada rumah adat Jambi dan Riau. Ya, ada. Tapi sekadar deretan di antara anjungan daerah lain. Tidak ada yang menegaskan bahwa dari sanalah lahir bahasa persatuan kita. Museum lain di Jakarta? Fatahillah bicara Batavia. Museum Wayang bicara Jawa. Museum Tekstil bicara batik. Melayu tetap samar.

Lalu saya teringat Purajaya. Sebuah hotel di Kepulauan Riau. Milik keluarga Megat Rurry Afriansyah, tokoh Melayu. Hotel itu dirobohkan tanpa surat pengadilan. Tidak ada hukum, tidak ada perlindungan.

Rurry berkata: ”Purajaya bukan sekadar bangunan. Ia simbol perjuangan keluarga Melayu. Ketika dihancurkan tanpa hukum, yang hilang bukan hanya dinding, tetapi martabat.”

Bagi Melayu, itu bukan sekadar hotel yang runtuh. Itu pesan: warisan bisa dihapus kapan saja.

Lebih pahit lagi, masyarakat tahu ada mafia dari luar yang ingin menguasai Kepri. Mereka datang dengan uang. Dengan dukungan oknum aparat. Dengan politikus yang mau disogok.

”Apa artinya keadilan jika mafia bisa membeli hukum? Apa artinya persatuan jika akar bangsa sendiri dianggap tak penting? Melayu bukan musuh Indonesia. Melayu adalah akar Indonesia,” kata Rurry lagi.

Saya jadi berpikir: kalau di museum saja Melayu tidak ditampilkan, jangan heran kalau di lapangan warisan Melayu bisa dihancurkan. Di Jakarta, akar itu samar. Di Kepri, akar itu ditebang.

Rurry menutup dengan kalimat yang menancap di kepala saya:

”Melayu bukan lemah. Melayu bukan hilang. Melayu adalah akar. Dan bangsa tanpa akar, akan tumbang.”

Mungkin benar. Kita sedang hidup dalam bangsa yang lupa pada akarnya. Dan bangsa yang lupa akar, hanya menunggu waktu untuk rapuh.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments